Posted in Ngalor Ngidul

Cerita Tentang Struk

Aku termasuk orang yang suka menyimpan struk-struk pembelian, struk belanja, struk apa saja pokoknya. Bahkan terkadang tanpa sadar struk-struk tersebut sudah menumpuk sampai banyak sekali jumlahnya. Temanku sampai bilang gini: “Untuk apaan, sih disimpan gitu? Mau dikoleksi? Nambahin sampah aja. Kurang kerjaan… blablabla..

 

 

 

Menyimpan struk gitu udah seperti it’s like a habit aja gitu. Awalnya, sih sebagai tanda bukti aja tapi lama-kelamaan malah kebiasaan dan jadi koleksi struk (tanpa sadar). Kurang kerjaan, sih tapi ya begitulah.

Oke, aku mau sedikit cerita sesuatu yang berhubungan sama struk. Kejadiannya sekitar sebulan yang lalu. Aku sekeluarga pergi ke wahana permainan. Tante aku yang beli tiket masuknya dan tentu saja diberi struk pembelian. Struk tersebut dibuang begitu saja sama tante aku. And you know what? Ternyata struk itu bisa ditukar dengan berbagai macam items seperti minyak goreng, sabun, shampo, makanan, minuman dan lainnya. Ough! Disitu aku merasa kesal dan nyesal abis. Kenapa nggak aku aja yang antri beli tiketnya?!. Jadi kepikiran dikit kalau hal seperti membuang struk itu misalnya dianggap sesuatu yang jelas nggak penting buat hampir semua orang. Toh, cuma kertas doang, apa gunanya coba? Pasti begitu, kan pemikiran orang-orang?

Well, itulah sedikit cerita ngalor-ngidul tentang struk yang dianggap nggak penting keberadaannya oleh hampir kebanyakan orang.